Secara garis
besar majas dapat dibedakan menjadi empat kelompok, jenis macam-macam majas
dan contoh majas terlengkap mempunyai banyak turunan dan kategori dalam
majas itu sangat banyak dibawah ini akan dibahas secara jelas.
Majas terdiri atas:
Majas terdiri atas:
Majas
Perbandingan;
1.
Majas
Pertentangan;
2.
Majas
Sindiran;
3.
Majas
Penegasan.
Ke empat macam-macam majas diatas masih dibagi dalam
beberapa bagian majas, atau biasa disebut turunan dari majas tersebut, dibawah
ini detailnya.
A. Majas Perbandingan
1. Personifikasi
2. Metafora
3. Eufimisme
4. Sinekdoke
5. Alegori
6. Hiperbola
7. Simbolik
8. Litotes
9. Alusio
|
10.Asosiasi
11.Derifrasi
12.Metonomia
13.Antonomasia
14.Tropen
15.Parabel
16.Alusio
|
B. Majas Pertentangan
1. Antitesis
2. Paradoks
3. Okupsi
4. Kontradiksi
5. Anakronisme
6. Internimis
|
C. Majas Penegasan
1.
Pleonasme
2.
Repetisi
3.
Pararelisme
4.
Tautologi
5.
Simentri
6.
Enumerasia
7. Klimaks
8. Anti
klimaks
9. Retorik
10.Koreksio
11.Asidenton
12.Paksidenton
13.Eksklamasio
14.Preterito
15.Interupsi
16.Inversi
17.Elipsis
|
D. Majas Sindiran
1. Ironi
2. Sinisme
3. Sarkasme
|
Macam-Macam Majas
Beserta Definisi dan Contohnya
Setelah diatas tadi kita ulas
tentang jenis dan macam-macam majas yang ada. Dibawah ini akan
dijelaskan lengkap bagaimana pengertian dari majas tersebut beserta itu juga
kami berikan contohnya, ini info-asik ambil sampelnya dari
A. Majas
Perbandingan
Majas Perbandingan ialah kata-kata berkias yang
menyatakan perbandingan untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap
pendengar atau pembaca”. Ditinjau dari cara pengambilan perbandingannya, Majas
Perbandingan dibagi menjadi:
1) Asosiasi
atau Perumpamaan
Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan
dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini
ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana.
Contoh :
- Semangatnya keras bagaikan baja.
- Mukanya pucat bagai mayat.
- Wajahnya kuning bersinar bagai bulan purnama
2) Metafora
Metafora adalah majas yang mengungkapkan ungkapan
secara langsung berupa perbandingan analogis.
Me·ta·fo·ra /métafora/ : Pemakaian kata atau kelompok
kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang
berdasarkan persamaan atau perbandingan, misalnya tulang punggung dalam kalimat
pemuda adalah tulang punggung negara.
Contoh:
- Engkau belahan jantung hatiku sayangku. (sangat
penting)
- Raja siang keluar dari ufuk timur
- Jonathan adalah bintang kelas dunia.
- Harta karunku (sangat berharga)
- Dia dianggap anak emas majikannya.
- Perpustakaan adalah gudang ilmu.
3) Personifikasi
Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa
seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia.
Contoh:
- Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.
- Ombak berkejar-kejaran ke tepi pantai.
- Peluit wasit menjerit panjang menandai akhir dari
pertandingan tersebut.
4) Alegori
Alegori adalah Menyatakan dengan cara lain, melalui
kiasan atau penggambaran.
Alegori: majas perbandingan yang bertautan satu dan
yang lainnya dalam kesatuan yang utuh.
Contoh: Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi
Alegori biasanya berbentuk cerita yang penuh dengan
simbol-simbol bermuatan moral.
Contoh:
Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir
menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang
rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu
dengan laut.
5) Simbolik
Simbolik adalah majas yang melukiskan sesuatu
denganmempergunakan benda, binatang, atau tumbuhan sebagai simbol atau lambang.
Contoh:
- Ia terkenal sebagai buaya darat.
- Rumah itu hangus dilalap si jago merah.
- Bunglon, lambang orang yang tak berpendirian
- Melati, lambang kesucian
- Teratai, lambang pengabdian
6) Metonimia
Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri atau
lebel dari sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut.Pengungkapan tersebut
berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau
atribut.
Contoh:
- Di kantongnya selalu terselib gudang garam.
(maksudnya rokok gudang garam)
- Setiap pagi Ayah selalu menghirup kapal api.
(maksudnya kopi kapal api)
- Ayah pulang dari luar negeri naik garuda
(maksudnya pesawat)
7) Sinekdok
Sinekdok adalah majas yang menyebutkan bagian untuk
menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya. Majas sinekdokhe terdiri
atas dua bentuk berikut.
a) Pars
pro toto, yaitu menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.
Contoh:
(a) Hingga detik ini ia belum kelihatan batang
hidungnya.
(b) Per kepala mendapat Rp. 300.000.
b) Totem
pro parte, yaitu menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.
Contoh:
(a) Dalam pertandingan final bulu tangkis Rt.03
melawan Rt. 07.
(b) Indonesia akan memilih idolanya malam nanti.
8. Simile:
Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang
dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, "
umpama", "ibarat","bak", bagai".
Contoh:
Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan
Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.
B. Majas Pertentangan
Majas Pertentangan adalah “Kata-kata berkias yang
menyatakan pertentangan dengan yang dimaksudkan sebenarnya oleh pembicara atau
penulis dengan maksud untuk memperhebat atau meningkatkan kesan dan pengaruhnya
kepada pembaca atau pendengar”. Macam-macam Majas Pertentangan dibedakan
menjadi berikut.
1) Antitesis
Antitesis adalah majas yang mempergunakan pasangan
kata yang berlawanan artinya.
Contoh:
a) Tua muda, besar kecil, ikut meramaikan festival
itu.
b) Miskin kaya, cantik buruk sama saja di mata Tuhan.
2) Paradoks
Paradoks adalah majas yang mengandung pertentangan
antara pernyataan dan fakta yang ada.
Contoh;
a) Aku merasa sendirian di tengah kota Jakarta yang
ramai ini.
b) Hatiku merintih di tengah hingar bingar pesta yang
sedang berlangsung ini.
3) Hiperbola
Majas hiperbola adalah majas yang berupa pernyataan
berlebihan dari kenyataannya dengan maksud memberikan kesan mendalam atau
meminta perhatian.
Contoh:
a) Suaranya menggelegar membelah angkasa.
b) Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang.
4) Litotes
Litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan
cara yang berlawanan dari kenyataannya dengan mengecilkan atau menguranginya.
Tujuannya untuk merendahkan diri.
Contoh:
a) Makanlah seadanya hanya dengan nasi dan air putih
saja.
b) Mengapa kamu bertanya pada orang yang bodoh seperti
sayaini?
C. Majas Penegasan
Majas Perbandingan ialah kata-kata berkias yang
menyatakan penegasan untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap
pendengar atau pembaca”.Majas penegasan terdiri atas tujuh bentuk berikut.
1) Pleonasme
Pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata
secara berlebihan dengan maksud menegaskan arti suatu kata.
Contoh:
a) Semua siswa yang di atas agar segera turun ke
bawah.
b) Mereka mendongak ke atas menyaksikan pertunjukan
pesawat tempur.
2) Repetisi
Repetisi adalah majas perulangan kata-kata sebagai
penegasan.
Contoh:
a) Dialah yang
kutunggu, dialah yang kunanti, dialah yang kuharap.
b) Marilah kita
sambut pahlawan kita, marilah kita sambut idola kita, marilah kita sambut putra
bangsa.
3) Paralelisme
Paralelisme adalah majas perulangan yang biasanya ada
di dalam puisi.
Contoh:
Cinta adalah pengertian
Cinta adalah kesetiaan
Cinta adalah rela berkorban
4) Tautologi
Tautologi adalah majas penegasan dengan mengulang
beberapa kali sebuah kata dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan. Kadang
pengulangan itu menggunakan kata bersinonim.
Contoh:
a) Bukan,
bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bertukar pikiran saja.
b) Seharusnya
sebagai sahabat kita hidup rukun, akur, dan bersaudara.
5) Klimaks
Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal
berturutturut dan makin lama makin meningkat.
Contoh:
a) Semua orang
dari anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut antri minyak.
b) Ketua
Rt, Rw, kepala desa, gubernur, bahkan presiden sekalipun tak berhak mencampuri
urusan pribadi seseorang.
6) Antiklimaks
Antiklimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal
berturutturut yang makin lama menurun.
a) Kepala
sekolah, guru, dan siswa juga hadir dalam acara syukuran itu.
b) Di kota dan
desa hingga pelosok kampung semua orang merayakan HUT RI ke -62.
7) Retorik
Retorik adalah majas yang berupa kalimat tanya namun
tak memerlukan jawaban. Tujuannya memberikan penegasan, sindiran, atau
menggugah.
Contoh:
a) Kata siapa
cita-cita bisa didapat cukup dengan sekolah formal saja?
b) Apakah ini
orang yang selama ini kamu bangga-banggakan ?
d. Majas
Pertentangan
D. Majas Sindiran
Majas Perbandingan ialah kata-kata berkias yang
menyatakan sindiran untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar
atau pembaca”. Majas sindirian dibagi menjadi:
1) Ironi
Ironi adalah
majas yang menyatakan hal yang bertentangan denganmaksud menyindir.
Contoh:
a) Ini baru siswa teladan, setiap hari pulang malam.
b) Bagus
sekali tulisanmu sampai tidak dapat dibaca.
2) Sinisme
Sinisme
adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung.
Contoh :
a) Perkataanmu
tadi sangat menyebalkan, tidak pantas diucapkan oleh orang terpelajar
sepertimu.
b) Lama-lama
aku bisa jadi gila melihat tingkah lakumu itu.
3) Sarkasme
Sarkasme adalah majas sindiran yang paling kasar.
Majas ini biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.
Contoh:
a) Mau muntah aku melihat wajahmu, pergi kamu!
b) Dasar kerbau dungu, kerja begini saja tidak
becus!
Majas
A. Majas/ Gaya Bahasa
Majas
adalah cara menampilkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan
bahwa majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang
memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara
lain: pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat. Menurut Goris Keraf, sebuah
majas dikatakan baik bila mengandung tiga dasar, yaitu: kejujuran, sopan
santun, dan menarik.
Gaya bahasa dapat dikelompokkan menjadi empat
kelompok, yaitu:
1. Gaya
bahasa perulangan
2. Gaya
bahasa perbandingan
3. Gaya
bahasa pertentangan
4. Gaya
bahasa pertautan
A. Gaya
Bahasa Perulangan
Aliterasi
Aliterasi
ialah sejenis gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan pada suatu kata
atau beberapa kata, biasanya terjadi pada puisi.
Contoh:
Kau keraskan kalbunya
Bagai batu membesi benar
Timbul telangkai bertongkat urat
Ditunjang pengacara petah pasih
B. Asonansi
Asonansi
ialah sejenis gaya bahasa refetisi yang berjudul perulangan vokal, pada suatu
kata atau beberapa kata. Biasanya dipergunakan dalam puisi untuk mendapatkan
efek penekanan.
Contoh:
Segala ada menekan dada
Mati api di dalam hati
Harum sekuntum bunga rahasia
Dengan hitam kelam
C. Antanaklasis
Antanaklasis
ialah sejenis gaya bahasa yang mengandung perulangan kata dengan makna berbeda.
Contoh: Karena buah penanya itu menjadi buah
bibir orang.
D. Kiasmus
Kiasmus
ialah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi
atau pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat.
Contoh:
Ia menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.
E.
Epizeukis
Epizeukis
ialah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung. Maksudnya kata yang
dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh:
Ingat kami harus bertobat, bertobat, sekali lagi bertobat.
F. Tautotes
Tautotes
ialah gaya bahasa perulangan yang berupa pengulangan sebuah kata berkali-kali
dalam sebuah konstruksi.
Contoh:
Aku adalah kau, kau adalah aku, kau dan aku sama saja.
G. Anafora
Anafora
ialah gaya bahasa repetisi yang merupakan perulangan kata pertama pada setiap
baris atau kalimat.
Contoh:
Kucari kau dalam toko-toko.
Kucari kau karena cemas karena sayang.
Kucari kau karena sayang karena bimbang.
Kucari kau karena kaya mesti diganyang.
H. Epistrofa
(efifora)
Epistrofa
ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pada akhir baris atau
kalimat berurutan.
Contoh:
Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau tidur.
Aku mencercah daging ketika kau tidur.
I.
Simploke
Simploke
ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan awal dan akhir beberapa baris
(kalimat secara berturut-turut).
Contoh:
Ada selusin gelas ditumpuk ke
atas. Tak pecah.
Ada selusin piring ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin barang lain ditumpuk ke atas. Tak
pecah.
J.
Mesodiplosis
Mesodiplosis
ialah gaya bahasa repetisi yang berupa pengulangan kata atau frase di
tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut.
Contoh:
Pendidik harus meningkatkan
kecerdasan bangsa.
Para dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat.
K.
Epanalepsis
Epanalepsis
ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada akhir
baris, klausa, atau kalimat.
Contoh:
Saya akan berusaha meraih cita-cita saya.
L.
Anadiplosis
Anadiplosis
ialah gaya bahasa repetisi yang kata atau frase terakhir dari suatu kalimat
atau klausa menjadi kata atau frase pertama pada klausa atau kalimat
berikutnya.
Contoh:
Dalam raga ada darah
Dalam darah ada tenaga
Dalam tenaga ada daya
Dalam daya ada segalanya
2.
Gaya Bahasa Perbandingan
- Perumpamaan
Perumpamaan
ialah padanan kata atau simile yang berarti seperti. Secara eksplisit jenis
gaya bahasa ini ditandai oleh pemakaian kata: seperti, sebagai, ibarat, umpama,
bak, laksana, serupa.
Contoh:
Seperti air dengan minyak.
- Metafora
Metafora
ialah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara implisit.
Contoh:
Aku adalah angin yang kembara.
- Personifikasi
Personifikasi
ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau benda
yang tidak bernyawa ataupun pada ide yang abstrak.
Contoh:
Bunga ros menjaga dirinya dengan duri.
- Depersonifikasi
Depersonifikasi
ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat suatu benda tak bernyawa pada
manusia atau insan. Biasanya memanfaatkan kata-kata: kalau, sekiranya, jikalau,
misalkan, bila, seandainya, seumpama.
Contoh:
Kalau engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya.
- Alegori
Alegori
ialah gaya bahasa yang menggunakan lambang-lambang yang termasuk dalam alegon
antara lain:
Fabel,
contoh: Kancil dan Buaya
Parabel,
contoh: Cerita Adam dan Hawa
- Antitesis
Antitesis
ialah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan.
Contoh:
Dia gembira atas kegagalanku dalam ujian.
- Pleonasme
dan Tautologi
Pleonasme
adalah penggunaan kata yang mubazir yang sebesarnya tidak perlu. Contoh: Capek
mulut saya berbicara.
Tautologi
adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau frase yang searti dengan kata
yang telah disebutkan terdahulu. Contoh: Apa maksud dan tujuannya datang ke
mari?
- Perifrasis
Perifrasis
ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya sengaja menggunakan frase yang
sebenarnya dapat diganti dengan sebuah kata saja.
Contoh:
Wita telah menyelesaikan sekolahnya tahun 1988 (lulus).
- Antisipasi
(prolepsis)
Antisipasi
ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya menggunakan frase pendahuluan yang
isinya sebenarnya masih akan dikerjakan atau akan terjadi.
Contoh:
Aku melonjak kegirangan karena aku mendapatkan piala kemenangan.
- Koreksio
(epanortosis)
Koreksio
ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya mula-mula ingin menegaskan sesuatu.
Namun, kemudian memeriksa dan memperbaiki yang mana yang salah.
Contoh:
Silakan Riki maju, bukan, maksud saya Rini!
3.
Gaya Bahasa Pertentangan
- Hiperbola
Hiperbola
ialah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan baik jumlah,
ukuran, ataupun sifatnya dengan tujuan untuk menekan, memperhebat, meningkatkan
kesan dan pengaruhnya.
Contoh:
Pemikiran-pemikirannya tersebar ke seluruh dunia.
- Litotes
Litotes
ialah majas yang berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang
sebenarnya.
Contoh: Apa yang kami berikan ini memang tak
berarti buatmu.
- Ironi
Ironi
ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang isinya bertentangan dengan
kenyataan yang sebenarnya.
Contoh:
Bagus benar rapormu Bar, banyak merahnya.
- Oksimoron
Oksimoron
ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang di dalamnya mengandung
pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase atau
dalam kalimat yang sama.
Contoh:
Olahraga mendaki gunung memang menarik walupun sangat membahayakan.
- Paronomosia
Paronomasia
ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang berisi penjajaran kata-kata yang
sama bunyinya, tetapi berlainan maknanya.
Contoh:
Bisa ular itu bisa masuk ke sel-sel darah.
- Zeugma
dan Silepsis
Zeugma
ialah gaya bahasa yang menggunakan dua konstruksi rapatan dengan cara
menghubungkan sebuah kata dengan dua atau lebih kata lain. Dalam zeugma kata
yang dipakai untuk membawahkan kedua kata berikutnya sebenarnya hanya cocok
untuk salah satu dari padanya.
Contoh:
Kami sudah mendengar berita itu dari radio dan surat kabar.
Dalam
silepsis kata yang dipergunakannya itu secara gramatikal benar, tetapi kata
tadi diterapkan pada kata lain yang sebenarnya mempunyai makna lain.
Contoh:
Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
- Satire
Satire
ialah gaya bahasa sejenis argumen atau puisi atau karangan yang berisi kritik
sosial baik secara terang-terangan maupun terselubung.
Contoh:
Jemu aku dengan bicaramu.
Kemakmuran, keadilan, kebahagiaan
Sudah sepuluh tahun engkau bicara
Aku masih tak punya celana
Budak kurus pengangkut sampah
- Inuendo
Inuendo
ialah gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang
sebenarnya.
Contoh:
Dia memang baik, cuma agak kurang jujur.
- Antifrasis
Antifrasis
ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan sebuah kata dengan
makna kebalikannya. Berbeda dengan ironi, yang berupa rangkaian kata yang
mengungkapkan sindiran dengan menyatakan kebalikan dari kenyataan, sedangkan
pada antifrasis hanya sebuah kata saja yang menyatakan kebalikan itu.
Contoh
Antifrasis: Lihatlah sang raksasa telah tiba (maksudnya si cebol).
Contoh ironi: Kami tahu bahwa kau memang orang
yang jujur sehingga tak ada satu orang pun yang percaya padamu.
- Paradoks
Paradoks
ialah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta
yang ada.
Contoh:
Teman akrab adakalanya merupakan musuh sejati.
- Klimaks
Klimaks
ialah gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung
penekanan atau makin meningkat kepentingannya dari gagasan atau ungkapan
sebelumnya.
Contoh:
Hidup kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa dan negara.
- Anti
klimaks
Antiklimaks
ialah suatu pernyataan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan
dari yang penting hingga yang kurang penting.
Contoh:
Bahasa Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, siswa SLTA, SLTP, dan SD.
- Apostrof
Apostrof
ialah gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang
tidak hadir.
Contoh:
Wahai dewa yang agung, datanglah dan lepaskan kami dari cengkraman durjana.
- Anastrof
atau inversi
Anastrof
ialah gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan membalikkan susunan kata
dalam kalimat atau mengubah urutan unsur-unsur konstruksi sintaksis.
Contoh: Diceraikannya istrinya tanpa setahu
saudara-saudaranya.
- Apofasis
Apofasis
ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang tampaknya menolak sesuatu, tetapi
sebenarnya justru menegaskannya.
Contoh :
Sebenarnya saya tidak sampai hati mengatakan bahwa anakmu kurang ajar.
- Histeron
Proteran
Histeron
Proteran ialah gaya bahasa yang isinya merupakan kebalikan dari suatu yang
logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.
Contoh :
Jika kau memenangkan pertandingan itu berarti kematian akan kau alami.
- Hipalase
Hipalase
ialah gaya bahasa yang berupa sebuah pernyataan yang menggunakan kata untuk
menerangkan suatu kata yang seharusnya lebih tepat dikarenakan kata yang lain.
Contoh:
Ia duduk pada bangku yang gelisah.
- Sinisme
Sinisme
ialah gaya bahasa yang merupakan sindiran yang berbentuk kesangsian yang
mengandung ejekan terhadap keikhlasan atau ketulusan hati.
Contoh:
Anda benar-benar hebat sehingga pasir di gurun sahara pun dapat Anda hitung.
- Sarkasme
Sarkasme ialah gaya bahasa yang mengandung
sindiran atau olok-olok yang pedas atau kasar.
Contoh:
Kau memang benar-benar bajingan.
4. Gaya Bahasa Pertautan
- Metonimia
Metonimia
ialah gaya bahasa yang menggunakan nama barang, orang, hal, atau ciri sebagai
pengganti barang itu sendiri.
Contoh:
Parker jauh lebih mahal daripada pilot.
- Sinekdoke
Sinekdoke
ialah gaya bahasa yang menyebutkan nama sebagian sebagai nama pengganti
barang sendiri.
Contoh
Sinekdoke pars pro toto: Lima ekor kambing telah dipotong pada acara itu.
Contoh
Sinekdoke totem pro parte: Dalam pertandingan itu Indonesia menang satu lawan
Malaysia.
- Alusio
Alusia
ialah gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu pristiwa
atau tokoh yang telah umum dikenal/ diketahui orang.
Contoh: Apakah peristiwa Madiun akan terjadi
lagi di sini?
- Eufimisme
Eufimisme
ialah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih
kasar yang dianggap
merugikan atau yang tidak menyenangkan.
Contoh: Tunasusila sebagai pengganti pelacur.
- Eponim
Eponim
ialah gaya bahasa yang menyebut nama seseorang yang begitu sering dihubungkan
dengan sifat tertentu
sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan
sifat itu.
Contoh:
Dengan latihan yang sungguh saya yakin Anda akan menjadi Mike Tyson.
- Antonomasia
Antonomasia
ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan gelar resmi atau
jabatan sebagai
pengganti nama diri.
Contoh:
Kepala sekolah mengundang para orang tua murid.
- Epitet
Epitet
ialah gaya bahasa yang berupa keterangan yang menyatakan sesuatu sifat atau
ciri yang khas dari
seseorang atau suatu hal.
Contoh:
Putri malam menyambut kedatangan remaja yang sedang mabuk asmara.
- Erotesis
Erotesis
ialah gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang tidak menuntut jawaban sama
sekali.
Contoh:
Tegakah membiarkan anak-anak dalam kesengsaraan?
- Paralelisme
Paralelisme
ialah gaya bahasa yang berusaha menyejajarkan pemakaian kata-kata
atau frase-frase yang
menduduki
fungsi yang sama dan memiliki bentuk gramatikal yang sama.
Contoh:
+ Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.
- Bukan
saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus memberantasnya (Ini
contoh yang tidak baik).
- Elipsis
Elipsis
ialah gaya bahasa yang di dalamnya terdapat penanggalan atau penghilangan salah
satu atau beberapa
unsur penting dari suatu konstruksi sintaksis.
Contoh: Mereka ke Jakarta minggu lalu
(perhitungan prediksi).
Pulangnya membawa oleh-oleh banyak sekali (Penghilangan subyek).
Saya sekarang sudah mengerti ( Penghilangan obyek).
Saya akan berangkat (penghilangan unsur Keterangan).
Mari makan!(penghilangan subyek dan obyek).
- Gradasi
Gradasi
ialah gaya bahasa yang mengandung beberapa kata (sedikitnya tiga kata)
yang diulang dalam konstruksi itu.
Contoh: Kita harus membangun, membangun jasmani
dan rohani, rohani yang kuat dan tangguh, dengan ketangguhan itu kita maju.
- Asindeton
Asindenton
ialah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang
mengandung kata-
Contoh: Ayah, ibu, anak merupakan inti dari
sebuah
keluarga.
- Polisindeton
Polisindenton
ialah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau sebuah konstruksi yang
mengandung kata-kata yang sejajar dan dihubungkan dengan kata-kata
penghubung.
Contoh:
Pembangunan memerlukan sarana dan prasarana juga dana serta kemampuan
pelaksana.



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam id libero non erat fermentum varius eget at elit. Suspendisse vel mattis diam. Ut sed dui in lectus hendrerit interdum nec ac neque. Praesent a metus eget augue lacinia accumsan ullamcorper sit amet tellus.
0 komentar:
Posting Komentar